Sabtu, 12 Desember 2009

Aku Ini Anak mu


Hari itu akhirnya mereka menyadari kalau semua ini terlalu berat untukku.

Aku bagaikan satu- satunya buku diary di dalam rumah, tapi tak selayaknya buku diary yang lain, aku hanyalah sebuah buku diary yang berisi seluruh cerita kelam dan sedih, sudah lusuh, dan sudah penuh dengan cemooh banyak orang. Mungkin jika aku benar- benar sebuah buku diary, aku akan tetap diam dan tidak akan menangis, tetapi mereka lupa kalau aku hanya seorang anak kecil yang seharusnya bisa menemukan jati dirinya pada saat ini. Tapi aku kehilangan semua waktu itu, karena mereka yang tidak sadar akan adanya aku.

Malam itu, benar- benar ku lihat, papa memukul mama dengan sebuah tas besar yang berisi banyak buku- buku penuh ilmuku, terlihat sangat menyakitkan, itu semua ku lihat dari lembaran kertas- kertas fisika yang menjadi rusak dan sobek. Dan malam itu mama menangis untuk yang ke 59 kalinya padaku, dan 59 kali pula aku terdiam dan meratapi mama yang meluapkan seluruh emosinya padaku, dan 59 kali juga aku mendengar mama bercerita tentang apa yang membuat papa marah , apa lagi kalau bukan karena Zevara, kakak yang sebenarnya bukan kakakku, ya… dia adalah kakak tiriku, dia anak dari istri pertama papa yang kini telah bercerai dengannya, dan kini dia menikah kembali dengan seorang pengusaha yang ternyata adalah partner kerja papa, bisa ku bayangkan betapa sakit perasaannya, di tambah dengan sifat Zevara yang sekarang ini sangat kacau, semua ini papa anggap sebagai kesalahan mamaku yang tidak bisa membimbing Zeva. Tapi apa daya, bahkan untuk menghormati mama sebagai orang yang lebih dewasa saja Zeva tidak mau, apa lagi untuk membuatnya tunduk dan mengakui mamaku sebagai mamanya juga. It’s very difficult.

Pagi harinya, mukaku terlihat pucat, dan tambah terasa pucat saat pak Ippal guru fisikaku menyodorkan kertas soal ulangan. Benar- benar malang nasibku ini, aku sungguh tidak mengerti apa yang ada di dalam kertas ini. Seminggu yang lalu pak Ippal memang telah menjelaskan bab ini pada teman- temanku tapi tidak kepadaku. Saat itu aku harus terkapar lemas di rumah, kerena seharian sebelumnya, aku tidak makan sebutir nasipun, pintu rumahku terkunci rapat , dan lemari es bagaikan lemari tak terawat, jika dia bisa bicara mungkin dia akan berkata ,

“ lebih baik aku di buang saja, karena tak ada manfaatnya aku di sini!”

Karena setelah rentetan pertengkaran orang tuaku , semua yang ada di rumah ini terasa mati. Papa kali itu sengaja mengunci rumah agar Zeva tidak keluar dan melarikan diri, tapi papa lupa, kalau anaknya yang satu ini masih ada dan saat itu terkurung tanpa makanan, sedang Zeva dia tetap berhasil keluar dari rumah setelah loncat dari lantai 2. Mungkin jika kamu adalah tetangga ku, kamu pasti akan tercengang melihat Zeva dan akan menganggapnya sebagai pencuri , tapi bagi tetanggaku yang saat ini, semua perilaku Zeva sudah tidak diherankan lagi.

Nilai 3 terpampang besar di papan pengumuman sekolah SMP Primasakti atas nama Arzeina Reva Halim kelas 9A. Malunya bukan main di antara retetan angka 9 dan 10 terdapat sebuah angka 3 dan buruknya itu dalah nilaiku. Aku pulang sekolah dengan rasa ragu, ingin cepat pulang karena malu, tetapi tidak ingin cepat pulang karena terbayang akan situasi kacau di rumahku.

Dua bulan setelah kejadian beruntun itu, kini tante dan om ku yang harus merasakan sakit yang sama, merekan terpaksa pindah ke rumah ku dengan membawa seorang anak bayi imut yang merupakan anak pertama mereka, setelah sebuah rumah dan mobil milik mereka disita oleh bank karena mereka terbelit hutang. Usaha super market mereka harus bangkrut. Maklum karena sekarang ini mulai banyak saingan super market – super market lain di kota Jakarta. Tadinya sempat ku kira kedatangan mereka akan menjadi titik terangku, namun ini justru menambah daftar pengisi luka di hatiku.

Hari itu tante Silva yang sedang jalan- jalan denganku, tiba- tiba memergok om Welly sedang bermesraan dengan seorang wanita yang tidak asing lagi dengan ku, seorang yang sering membuat kak Zeva tiba- tiba menjadi berutal jika sudah menyangkut dengan urusan bertemu dengan nya. Ya.. dia adalah Icha pacar kak Zeva yang dulu sempat berkenalan denganku, tak ku bayangkan dia yang terlihat manis didepan ku saat itu, ternyata menyedihkan. Hari itu akhirnya dimulailah sebuah konflik baru yang lebih memanaskan rumahku, kak Zeva, tante Silva dan om Welly. Arghh… dan sayangnya kali ini bukan aku saja yang terluka melihat mereka bertengkar tetapi begitu juga Hanida. Kasihan dia, sekecil itu sudah harus merasakan kekacauan ayah dan bundanya yang bertengkar. Sungguh aku tidak ingin Hanida menjadi Azeina, Azeina yang baru. Kini Hanida kecil itu menjadi teman yang menemaniku di rumah ini, walau dia masih kecil, sedikit- sedikit dia mulai mengerti apa yang aku katakan. Semua ini sudah terlalu berat buatku, dan bagaimana dengan Hanida? Aku masih ingat saat Hanida pertama kali dapat berbicara. Dan tau kah kamu apa yang dia ucapkan ?

“cedih, cedih!!”seru Hanida dengan polosnya. Tapi sayangnya mungkin sampai saat ini tante Silva dan om Welly tidak tahu kalau anak pertamanya itu kini sudah bisa berbicara, tapi kenapa kata yang pertama ia lontarkan adalah, “sedih?”.

Akhirnya tiba saat Ujian kelulusan. Kali ini aku masuk dalam daftar peserta Ujian Nasional. Untungnya Tuhan sangat sayang padaku, disaat 4 hari penentuan nasibku di mulai , kondisi rumah terasa lebih nyaman, tentram dan berbeda dari biasanya. Dan hasilnya ,aku lulus dari Sekolah Menengah Pertama.

Sebuah percikan cahaya akhirnya datang. Neneku yang tinggal di kota Jogja, memilih untuk membawaku ke sana untuk meneruskan pendidikan SMA ku, tentunya setelah melalui pemikiran yang panjang. Tenang rasanya aku bersekolah di sana. Nenek yang perhatian, situasi yang mendukung dan teman- teman yang ramah. Semenjak itu nilai- nilaiku mulai menjadi baik, seluruh nilai raporkupun cukup membanggakan, dan satu persatu jati diriku mulai terlihat. Selayaknya seorang remaja, tentunya perasaan itu pun ada padaku, aku mulai menyukai lawan jenisku. Dan dia lah yang terpilih menjadi pangeran pertamaku, Reno. Senang rasanya ada yang memperhatikanmu, menyayangimu, manyanjungmu bahkan membelamuketika kamu ditindas. Aku yang dulu terpuruk dalam suatu bangunan, kini mulai dapat mengepakan sayapnya, dan senyum mulai menghiasi hari- hari indah di Jogja yang tentunya bersama Reno. Aku juluki Jogja sebagai “city of love.” Tepatnya kota yang paling bersejarah dalam hidupku.

“pyar!” sebuah piring terlepas dari genggamanku, ketika nenek mengabarkan bahwa Hanida telah tiada. Sedih bercampur marah aku rasakan, ketika aku mendengar bahwa Hanida meninggal karena sebuah kecerobohan, ia keracunan sebotol susu yang ternyata sudah kadaluarsa 1 bulan yang lalu, selain itu dokter mengatakan bahwa Hanida juga kekurangan asupan gizi , mungkin semua ini disebabkan karena ayah dan bundanya yang kurang memperhatikannya, tapi apa daya Hanida manis kini telah tiada. Saat itu juga aku berpikir beruntungnya aku mempunyai nenek sebaik neneku yang telah bersedia membawaku pergi dari kondisi ini. Dan sejak saat itu, akhirnya tante Silva dan om Welly memutuskan untuk bercerai.

Liburan semester telah di mulai, aku memberanikan diriku untuk pulang ke rumah dan menemui papa dan mama juga kak Zeva. Untungnya sebuah sambutan hangat menghiasi wajah mama dan papa, tapi tidak dengan kak Zeva, justru aku melihat mukanya yang sembab, seperti bekas pukulan seseorang. Malam itu papa dan mama membuat sebuah makan malam kecil, aneh rasanya melihat ini, tapi ini adalah sebuah makan malam yang tidak pernah aku lupakan, saat mama, dan papa tidak bertengkar walaupun kak Zeva masih dingin tidak menyapaku sama sekali, tapi setidaknya dia masih mau menerimaku dan duduk di sampingku, sebenarnya dalam benakku masih bertanya- tanya, “ apakah yang terjadi dengan kak Zeva? Ada apa dengan wajahnya?” aku sungguh tidak mengerti.

Tiga hari di rumah terasa sungguh menyenangkan, tapi sungguh sangat berbeda dengan hari ke empat. Malam itu kembali ku dengar papa marah pada kak Zeva, dan kali ini aku tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Hari itu ketika kepulanganku dari Jogja , sebenarnya kak Zeva sudah ingin pergi dari rumah seperti biasanya di malam minggu, tapi papa melarang sampai memukulnya hanya sekedar untuk membuat makan malam kecil untuk diriku ini. Seketika air mataku menetes dari kedua mataku, aku yang ketika itu sedang berdiri di depan kamar kak Zeva akhirnya berlari dan pergi ke kamarku dengan segudang rasa perih. “Sebenci itukan kak Zeva kepadaku?” itulah pertanyaan ku yang belum bisa terjawab sampai sekarang.

Satu minggu berada di rumah cukup membuatku puas. Aku memutuskan untuk balik ke Jogja. Tapi papa yang sudah tidak kuat melihat tingkah laku kak Zeva dan teman- temannya justru memutuskan untuk menyekolahkan kak Zeva di Jogja bersama diriku dan nenek. Perasaanku sudah tidak enak ketika keputusan papa benar- benar bulat, kak Zeva ikut denganku pergi ke Jogja, tapi semua perasaan buruk ini aku pendam dan berusaha tetap tersenyum pada kak Zeva.

Hari-hariku di Jogja tetap berjalan seperti biasa, tetapi bedanya kali ini di pagi hari aku akan selalu melihat kak Zeva yang akan memboncengiku berangkat ke sekolah. Memang tak ada yang berubah drastis. Aku kini sudah mulai berfikir, ternyata kak Zeva bisa berubah juga.

“nenek? Kok nenek pucet gitu?” tanya ku pada nenek setelah ia keluar dari kamar kak Zeva. Tapi nenek hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil kepadaku. Aku jadi curiga , sebenarnya ada apa dengan ini semua. Jika aku hanya diam maka aku tidak akan mendapatkan jawabannya, kini ku kumpulkan semua keberanianku. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke kamar kak Zeva saat ia sedang pergi ke luar. Dan tidak lama aku berada di sana, aku akhirnya tau apa yang membuat nenek begitu pucat melihat kamar kak Zeva. Aku merasa sangat dibohongi dengan semua sikap itu, aku tidak menyangka, “sebegitu liarkah kak Zeva sampai ia bisa mempunyai barang seperti ini?” 2 botol minuman keras terpampang di kasur kak Zeva. Baunya sudah mulai terasa, bagai mana nenek tidak pucat? Melihat cucu laki-laki satu- satunya, yang seharusnya bisa dibanggakan justru sangat mengecewakan. Dengan paksaan ku akhirnya nenek mau bercerita padaku. Sesungguhnya sudah lama nenek tau jika kak Zeva sering menkonsumsi minuman keras ini, dan berulangkali pula nenek sudah ingatkan kak Zeva. Tapi hasilnya hanya 0. Lama kelamaan nenek mulai tidak kuat dengan prilaku kak Zeva, tubuh nenek melemas. Kasihan nenek sudah tua tetapi harus mengurus cucu- cucunya ini, yang seharusnya sudah bisa mandiri.

“nek! Nenek?” tubuh nenek terkapar lemas, aku langsung membawanya ke rumah sakit, aku tak tau harus minta pertolongan pada siapa? Sudah tidak ada di kepalaku saat itu, yang terpikir hanya bagaimana nenek bisa selamat. Air mataku menetes deras, aku merasa bersalah kenapa aku harus membebani hidup nenek? Aku panik dan tidak tau harus bagaimana lagi.

Mama yang mendengar kabar ini langsung berangkat menuju kota Jogja pagi itu juga. Syukur nenek sudah melewati masa kritisnya. Ketika sampai di Jogja aku tercengang, mama tidak datang bersama papa. Karena ternyata mereka sudah tidak tinggal satu atap lagi semenjak kak Zeva dan aku meninggalkan rumah. Mendengar mama dan papa yang tidak akur lagi ini cukup melipat gandakan sakithatiku .

Setelah kejadian ini, mama akhirnya memutuskan agar aku dan kak Zeva pulang ke Jakarta saja agar tidak merepotkan nenek lagi. Tapi ini semua justru tidak memper baik keadaan, aku tambah tertekan melihat kondisi keluargaku yang mulai hancur, di Jogja nenekpun kembali sakit- sakitan. Aku dengan kondisi ini terancam putus sekolah, karena tak satupun pelajaran bisa ku cerna , hubunganku dengan Reno pun berakhir. Semua ini benar- benar begitu mandadak, dengan kondisi ini aku jadi drop dan akhirnya sering melamun, tapi tidak satu orangpun termasuk mama dan papa yang bisa membantuku.

Dua bulan aku menanggung derita ini sendirian, lama kelamaan aku memilih si batang tembakau menjadi pelampiasanku, tapi tak satu orang pun yang tau itu, termasuk mama. Lama kelamaan aku mejadi depresi, aku sering secara tidak sengaja menjatuhkan barang dan kemudian berteriak. Aku hampir gila melihat semua kondisi ini. Bik Hana, pembantuku yang akhirnya memberitahu situasi ini pada mama dan papa. Barulah kini mereka lihat Arzeina yang dulu manis itu kini telah berubah menjadi Arzeina yang lemah. Aku di rawat intensif oleh seorang psikolog. Dan kini mama, papa, dan kak Zeva baru menyadari betapa perih perasaanku ketika melihat mereka bertengkar, sampai mereka tidak sadar bahwa ada aku di sini. Tapi tidak segalanya bisa ku salahkan pada mereka, ini juga salahku, mengapa aku hanya diam dan tidak melakukan apapun untuk mempersatukan mereka. Semua yang ku alami ini membuatku ingin pergi, tapi sebuah kesalahan terbesarku adalah, ketika aku justru memilih untuk pergi dari masalah bukan malah memilih untuk tetap di sini dan menyelesaikan semuanya. Karena tidak ada hidup yang datar, semuanya butuh perjuangan dan pengorbanan Friends.

Sesungguhnya aku hanya ingin berkata, “ ma, pa, ! aku ini anak mu! Jangan lupakan keberadaanku disini! Really love you all.”


Sabtu, 21 November 2009

file:///Z:/AKU%20INI%20ANAKMU/
GlitterFly.com - Customize and Share your images

How Tobe Lucky Girls


"how tobe lucky girls?" kira- kira itu pertanyaan yang paling sering ku ucapin semenjak aku masuk SMA. guys, hari- hariku sekarang jd funny bgd. tapi satu yang aku nggak habis pikir " kenapa selelu sial?" ok girls, menurut sebuah penelitian ku yang uda ngabisin biaya ampe perakan rupiah, aku mendapatkan suatu jawaban. tips- tips ku ini bisa di terapi bagi kalian yang ngerasa sering di mokking, bullying etc. hahahhaha... g selebay itu kali coy!! 1. yakinkan dirimu kalo kamu itu orang baik. 2. yakinkan dirimu kalo kamu itu orang yang nggak butuh dikasihani. (ex: jangan mintak sesuatu kalo nggak di tawarin.) 3. berusaha jadi diri sendiri. 4. cari temen yang eksis di mana- mana ( nb. biar kena imbasnya) 5. jangan suka ngejek kalo nggak di ejek 6. pilih kabur kalo ketemu sama temen yang terkenal bgd garong. 7. sering ikut temen- temen main. ( walaupun nantinya di kacangin tapi gpp numpang eksis aja. biar di FB ada pic mu) 8. sering up date berita terkini yang lg bumming di kamangan mu. 9. change ur style kalo terasa g sama dengan temen- temen. 10. pake parfum yang bener- bener nggak jadul ( masalahnya banyak yang males deketin kita kalo lg BB) 11. jadilah orang yang paling modal satu kelas ( ex: bawa tempat pensil gede yang isinya banyak polpen, spidol, streples, gunting etc. pokonya yang nggak biasa di bawa ama anak- anak) 12. berjuang jadi anak pinter ( biasanya kalo pinter kita jd di andelin temen- temen) 13. jangan suka ngadu ke guru kalo banyak temen yang mbolos.( ya aku tau itu nggak baik tapi mau gimana lagi it's senior high school bok!!) 14. sering kasih makanan ke temen- temen ( biar banyak yang nempel) 15.ini tips terakhir yang bisa kalian pake. tapi ini just buat yang ngerasa facenya lumayan menjual aja. sorry ya..... cari pacar yang bisa ngangkat nama kita!! sumpah ini ampuh!! ok deh girls sekian tips dari showsya moga kalian menjadi LUCKY GIRLS. hidup CEWEK!!!!! =D